Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2015

Bagaimana Cara Membuat Sampo yang Efektif

Ketika datang ke perawatan rambut, membuat sampo sendiri bisa menjadi pilihan yang cerdas. Dengan cara ini, Anda dapat mengontrol bahan-bahannya dan memastikan bahwa sampo yang Anda gunakan aman dan berkualitas tinggi. Berikut adalah panduan profesional tentang cara membuat sampo yang efektif.                                         Shampo merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud keramas rambut, sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan sedapat mungkin menjadi lembut, mudah diatur dan berkilau.  Dan merupakan produk perawatan rambut yang digunakan untuk menghilangkan minyak, debu, serpihan kulit, dan kotoran lain dari rambut.  Langkah pertama adalah memilih bahan-bahan yang tepat. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Shampo adalah sebagai berikut: a. Lilin putih 10% b. Adeps lanae 10% c. Cetil alkohol 8% d. Na Lauryl sulfat 10% e. Parfum 1% f. Nipagin 0,2% g. Aquades                                         Setelah Anda mengumpulkan semua bah

MANFAAT REAKSI HIDROLISIS

MANFAAT REAKSI HIDROLISIS > Reaksi hidrolisis digunakan untuk menetralkan suatu campuran asam dan basa yang menghasilkan air dan garam. Salah satu hasil dari reaksi hidrolisis yaitu terbentuknya garam yang biasa dijumpai di dapur (NaCl) yang merupakan produk dari reaksi asam basa   HCl (aq) + NaOH (aq) ----->       NaCl (aq) + H2O (l) >Reaksi hidrolisis digunakan untuk merubah pH suatu larutan Garam yang menghasilkan larutan basa, dihasilkan dari suatu reaksi antara asam lemah dan basa kuat. Garam yang menghasilkan larutan asam dihasilkan dari suatu reaksi antara asam kuat dan basa lemah.

Mekanisme Reaksi Hidrolisis

 Hidrolisis berasal dari kata hidro yaitu air dan lisis berarti penguraian. Hidrolisis adalah reaksi kimia yang memecah molekul air (H2O) menjadi kation hidrogen (H+) dan anion hidroksida (OH−) melalui suatu proses kimia. Proses ini biasanya digunakan untuk memecah polimer tertentu, terutama yang dibuat melalui polimerisasi tumbuh bertahap (step-growth polimerization). Hidrolosis berbeda dengan hidrasi. Pada hidrasi, molekul tidak terpecah menjadi dua senyawa baru. Hidrolisis merupakan reaksi penguraian garam oleh air atau reaksi ion-ion garam dengan air. >   Reaksi Hidrolisis terjadi ketika suatu asam bertemu dengan basa yang akan menghasilkan garam dan air yang merubah pH dari campuran tersebut. Dalam reaksi hidrolisis, terjadi penarikan H+ dan OH- dari senyawa asam dan basa. H+ dan OH- berikatan menjadi air. Sedangkan pembentuk senyawa asam dan basa yang lain bersatu membentuk dari garam campuran asam basa tersebut. Garam tersebut dapat bersifat asam atau bas

Reaktor Membran

Reaktor membran adalah sistem reaktor baru yang mengkombinasikan pemisahan dengan membran dan reaksi kimia. Reaktor membran memiliki dua tipe, yaitu reaktor membran packed-bed dan reaktor membran katalitik. Reaktor membran dengan katalis packed-bed memiliki area pemisahan yang terpisah dari area reaksi, sedangkan pada reaktor membran katalitik, reaksi dan pemisahan terjadi secara simultan. Membran dalam reaktor ini merupakan penghalang yang hanya dapat melewatkan komponen tertentu. Selektivitas pada membran ini dikontrol oleh ukuran diameter pori membran. Pada reaktor membran, kombinasi reaksi dan pemisahan dilakukan untuk meningkatkan konversi. Salah satu produk hasil reaksi dipisahkan dari reaktor melalui membran. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan reaksi bergerak ke kanan (menurut Prinsip Le Chatelier), sehingga produk yang dihasilkan semakin banyak. Membran reaktor banyak digunakan pada reaksi dehidrogenasi (misalnya reaksi dehidrogenasi etana). Pada reaksi ini, hanya salah sa

Total Quality Management (TQM)

Total Quality Management (TQM) merupakan paradigma baru dalam menjalankan bisnis, yang berupaya untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara berkesinambungan atas kualitas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan organisasi. TQM merupakan pendekatan yang seharusnya dilakukan organisasi masa kini untuk memperbaiki kualitas produknya, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitasnya. Sukses tidaknya implementasi TQM sangat ditentukan oleh kompetensi SDM perusahaan untuk merealisasikannya. Penerapan manajemen sumber daya manusia tidak berdiri sendiri tetapi terikat dengan paket TQM dan harus selaras dengan perubahan proses.Total Quality Management (TQM) merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada pelanggan dengan memperkenalkan perubahan manajemen secara sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap proses, produk, dan pelayanan suatu organisasi. Proses Total Quality Management bermula dari pelanggan dan berakhir pada pelanggan pula. 1. Pengertia

Bahan Pembantu Pada Proses Produksi Gula

Bahan pembantu adalah bahan yang digunakan sebagai pelengkap formula atau sebagai bahan untuk proses produksi agar tujuan akhir dapat tercapai (Kamarijan, 1983). Bahan tambahan yang digunakan dalam proses pembuatan gula pasir di PT. IGN adalah sebagai berikut: 2.2.1 Susu Kapur Batu kapur (CaCO3) merupakan bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan susu kapur Ca(OH)2. Susu kapur digunakan sebagai bahan pembantu dalam proses pemurnian nira mentah di stasiun pemurnian. Batu kapur dibakar didalam tanur pada suhu 1100-1200 0C selama 100 jam sehingga menjadi kapur tohor (CaO). Kapur tohor tersebut selanjutnya dilebur dengan air panas sehingga menjadi susu kapur, berdasarkan reaksi sebagai berikut: CaCO3(s)                     CaO (s) + CO2 (s) CaO (s) + H2O (l)                     Ca(OH)2 (aq) Selama proses produksi, susu kapur ini harus terus diaduk agar tidak terjadi pengendapan. Pemberian susu kapur kedalam nira bertujuan untuk mendapatkan garam dapur (Ca(PO4)2) yang dapat mengikat koto

UTILITAS di PABRIK GULA

Utilitas merupakan sarana pendukung yang diperlukan industri untuk melakukan suatu proses. Dengan kata lain, semua industri yang ada pasti memerlukan unit utilitas untuk melaksanakan proses produksinya. Unit utilitas dalam proses industri berfungsi sebagai unit yang menyediakan, mengolah, dan mengoptimasi jenis-jenis utilitas yang dibutuhkan untuk memproses suatu bahan menjadi produk. Pada umunya setiap pabrik mempunyai bagian utilitas yang menangani berbagai macam peralatan. Unit utilitas di PT. IGN meliputi : 5.1  Unit Penyediaan Air Air termasuk dalam unit utilitas karena air diperlukan dalam proses industri selain untuk membersihkan alat-alat proses. Dalam proses industri, selain digunakan sebagai pengisi air ketel, air juga digunakan pada unit gilingan, pemurnian, penguapan, masakan, dan sebagai pendinginan unit yang beroperasi. Sebelum digunakan, air harus dilunakkan terlebih dahulu untuk mencegah timbulnya kerak dan korosi pada alat-alat proses. Air yang digunakan untuk proses

Penanganan Limbah Cair di Pabrik Gula

1)    Karakteristik fisik limbah cair : a. Padatan total Padatan total adalah padatan yag tersisa dari penguapan sampel limbah cair pada temperatur 103-1050C. Bahan padatan total terdiri dari bahan padat tak terlarut atau bahan padat terapung serta senyawa - senyawa yang terlarut dalam air (zat yang terlarut dalam kertas filter) dan bahan yang tersuspensi (bahan yang tak lolos saringan filter). b. Bau Bau merupakan petunjuk adanya pembusukan air limbah. Penyebab adanya bau pada air limbah karena adanya bahan volatile, gas terlarut dan hasil samping dari pembusukan bahan organik. Bau yang dihasilkan oleh air limbah pada umumnya berupa gas yang dihasilkan dari penguraian zat organik yang terkandung dalam air limbah, seperti Hidrogen sulfida (H2S). Limbah cair industri berpotensi mengandung senyawa berbau ataupun senyawa yang berpotensi mengasilkan bau selama proses pengolahan limbah cair. Pengaruh bau dari limbah cair dalam kadar yang rendah dapat menyebabkan gangguang psikologi bagi ke

Penanganan Limbah Padat di Pabrik Gula

Limbah padat yang dihasilkan proses produksi adalah blotong, ampas, serta abu sisa pembakaran di stasiun yoshimine boiler. Ampas yang dihasilkan dari stasiun gilingan dimanfaatkan untuk keperluan bahan bakar boiler. Penggunaan ampas diluar proses produksi adalah sebagai bahan untuk pembuatan kertas saring pada analisa NPP. Walaupun demikian, pemanfaatan ampas tidak mampu menghabiskan ampas yang ada, sehingga PT. IGN membuat stasiun pengebalan ampas. Ampas yang telah dibal diangkut truk untuk dijual,untuk dimanfaatkan sebagai substrat tumbuhnya jamur merang. Blotong yang merupakan limbah padat hasil penapisan Rottary Vacuum Filter, terdiri dari kotoran nira dicampur dengan bagacillo. Blotong hasil penapisan ini langsung ditampung di truk untuk diangkut ke tempat penampungan. Di PT. IGN Cepiring, blotong selain diolah sebagai pupuk, blotong juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri batu bata dan paving. Blotong yang keluar masih mengandung air dan masih bersuhu cukup tinggi, berbe

PERHITUNGAN NERACA MASSA KRISTALISASI pada PROSES PRODUKSI GULA

PERHITUNGAN NERACA MASSA KRISTALISASI Brix bahan: BLQ         = 62% WHM         =76% Foundan     = 82% Brix produk: W masequite pan 4W = 89,88% W masequite pan 5W = 90,71% W masequite pan 6W = 92,26% 1.    Pembuatan bibit pada pan 5W Bahan masuk:     -WHM = 210 HL             - BLQ = 190 HL             -foundan = 2 L Perhitungan brix bibit: In = out (Brix BLQ x jumlah BLQ) + (Brix WHM x jumlah WHM) + (brix foundan x jumlah foundan) = brix bibit x jumlah bibit (62% x 19000L) + (76% x 21000L) + (82% x 2L) = brix bibit x 37000 11780L + 15960L + 1,64L = brix bibit x 37000L Brix bibit= 27741,64L / 37000L             = 75% Bibit akan dialirkan ke pan 4W sebanyak 150HL dan pan 6W 120 HL, sedangkan sisanya 100 HL digunakan untuk masakan 5W 2.    Neraca massa masakan 5W Bahan masuk: -WHM = 100 HL         - BLQ = 130 HL         - Bibit = 100 HL In = out (Brix BLQ x jumlah BLQ) + (Brix WHM x jumlah WHM) + (brix bibit x jumlah bibit) = brix W masequite x jumlah W masequite (62% x 13000L) + (76% x

Proses Cooler dryer dan Pengemasan pada Produksi Gula dari Tebu

Proses akhir produksi pada saat gula kristal masuk dalam sugar cooler and dryer, pertama kali gula kristal putih (GKP) akan masuk dalam dryer terlebih dahulu dengan cara menghembuskan udara panas dalam dryer sambil berputar agar pengeringan lebih merata. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira bersuhu 800 C. Setelah itu GKP masuk dalam cooler, didalam cooler ini GKP didinginkan dengan udara hasil pendinginan dengan suhu sekitar 15-20˚C, agar GKP masuk dalam kemasan dalam keadaan suhu yang normal tidak terlalu panas. Proses berlanjut menuju vibrating screen conveyor, dalam proses ini GKP akan disortir menurut ukutran gula kristal putih (GKP) yang normal tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus, gula yang kasar akan tertinggal pada saat penyimpanan 1 sebagai gula reject, dan gula berukuran normal akan tertinggal dan diangkut dengan conveyor menuju bucket elevator yang akan mengangkut GKP menuju sugar bin yang akan menampun

Proses Sentrifugasi (Pemutaran) pada Produksi Gula dari Tebu dan Raw Sugar

Proses Sentrifugasi Stasiun pemutaran (Sentrifugasi) adalah stasiun lanjutan dari stasiun kristalisasi. Setelah masakan dingin proses selanjutnya adalah pemisahan, proses pemisahan ini dilakukan dengan gaya sentrifugal. Sentrifugal merupakan mesin pemutar yang digunakan untuk memisahkan kristal gula dari larutannya. Proses pemutaran bertujuan untuk memisahkan antara kristal gula dengan larutan yang melapisinya. Dalam pemisahan ini dapat menghasilkan diantaranya gula, larutan (klare atau stroop) dan tetes. Proses sentrifugasi (pemutaran) LGF A adalah proses pemisahan kristal gula A dan molasses A,  alat yang digunakan adalah sentrifugal LGF yang mempunyai kecepatan putar sekitar 2000 rpm,  sehingga dapat memisahkan gula A dan  A-molasses dengan gaya sentrifugal tersebut. LGF B digunakan untuk memisahkan hasil kristalisasi pada Pan B yang menghasilkan B-magma yang digunakan untuk bibit pada Pan A dan B-molases.  Proses pemutaran (sentrifugasi) pada akhir produksi, memisahk

Proses Kristalisasi (Masakan) pada Produksi Gula dari Tebu dan Raw Sugar

Kristalisasi merupakan proses pembentukan butir-butir kristal dari zat yang mula-mula terlarut dalam cairan. Pada proses pembuatan gula, kristalisasi terjadi didalam suatu pan masak. Dalam pan masak tersebut nira kental hasil evaporasi dimasak lagi sampai terbentuk inti kristal dan pembesaran kristal. Agar proses pemasakan tidak merusak nira pemasakan dilakukan pada suasana atau kondisi vakum (hampa udara). Proses kristalisasi pada pabrik dilakukan sebanyak 3 tahap yaitu produksi gula A, B, dan W dengan jumlah pan masakan yang digunakan sebanyak 8 buah. Pan A digunakan untuk pemasakan gula dari tebu, sedangkan pan W untuk pemasakan campuran antara gula dari tebu dan raw sugar. Pan A merupakan pan masakan gula A yang mempunyai nomor pan 1 dan 2. Pan A digunakan untuk memasak raw syrup hasil evaporasi. Kristalisasi dari pan A menghasilkan massequite A dan disentrifugasi pada Low Grade Fugal (LGF) A. Centrifuge A berfungsi memisahkan gula A dengan A molasses. A molases dimasak lagi

Proses Evaporasi (Penguapan) pada Produksi Gula dari Tebu dan Raw Sugar

Proses Evaporasi (Penguapan) Tujuan dari penguapan adalah untuk menguapkan sejumlah air yang terkandung dalam nira encer dengan cara dipanaskan dan pada keadaan vakum sehingga di dapat 65% brix. Nira yang masuk badan evaporator telah dipanaskan dahulu pada juice heater II dengan suhu berkisar 105-110°C. Sehingga kerja dari badan penguapan untuk menguapkan air tidak terlalu berat. Proses penguapan di PT. IGN menggunakan quadruple evaporator. Penggunaan quadruple evaporator dipertimbangkan untuk menghemat penggunaan uap. Proses penguapan pada evaporator adalah nira dari juice heater II dialirkan ke badan evaporator I. Evaporator I bekerja pada suhu maksimal 110-120°C dengan tekanan 0,5 kg/cm², akan tetapi tekanan ini dapat berubah-ubah tergantung dari uap panas yang digunakan yang berasal dari uap bekas. Jika uap bekas yang ada rendah atau kurang mencukupi maka dapat ditambahkan dari uap baru dari ketel tekanan rendah. Pada badan evaporator II, bahan panas yang digunakan berasal d

Proses Pemurnian Nira pada Produksi Gula dari Tebu

PEMURNIAN NIRA Pada stasiun pemurnian nira, nira dialirkan ke tangki, gas CO2 untuk menurunkan pH hingga 8,4 – 8,6 kemudian nira dipanaskan pada suhu 70 0C lalu disaring. Dalam hal ini, bahan yang digunakan adalah susu kapur. Fungsi bahan bahan tersebut adalah membantu proses pengendapan kotoran yang masih terdapat dalam nira, agar kualitas dari gula yang dihasilkan baik. Prinsip dari pemurnian adalah memisahkan dan mengurangi zat zat bukan gula dari nira, sehingga nira dapat menjadi gula semua (gula dengan kemurnian yang tinggi). Proses pemurnian nira yang dilakukan di PT. IGN Cepiring adalah Single Defekasi, yaitu penambahan susu kapur hingga pH-nya menjadi 7. Nira mentah dari stasiun penggilingan selanjutnya ditampung dalam screened juice tank, dan ditimbang dalam Boulogne recervoir setiap 25,3 kuintal. Pada Boulogne recervoir ini, nira mengalami penambahan asam pospat cair (H3PO4) yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran-kotoran pada nira mentah sehingga pemisahan kotoran da

Proses Pemurnian Pada Produksi Gula dari Tebu

Pemurnian Tujuan dari pemurnian > menghilangkan kotoran atau bahan bukan gula yang terdapat dalam nira mentah dan diantaranya adalah sebagai berikut : -    Zat yang terapung di dalam nira seperti sabut. -    Zat yang mengendap maupun yang emulsi dalam nira seperti pasir dan tanah lempung. -    Zat zat yang terlarut dalam nira seperti asam asam organik, lilin, protein, senyawa senyawa organik. Proses pemurnian ini menggunakan sistem Defekasi. Bahan pembantu proses ini adalah kapur tohor dalam bentuk susu kapur. 1.    Proses pemurnian nira secara Defekasi Cara ini adalah yang paling sederhana, tetapi hasil pemurniannya belum sempurna. Gula yang dihasilkan masih berupa gula berwarna coklat. Proses ini dilakukan dengan penambahan susu kapur ke dalam nira mentah. Reaksinya :     CaO + H2O         --->          Ca(OH)2     Ca(OH)2            --->    Ca2+ + 2OH Dengan adanya Ca2+ ini akan bereaksi dengan ion Phospat dalam nira mentah. Reaksinya :     Ca2+ + PO43-     ---->  

Proses Pembuatan Bioetanol dari Ganggang Hijau (Spirogyra sp.)

Bioetanol Bioetanol dipandang sebagai biofuel terbarukan yang bersih, terutama sebagai bahan bakar aditif yang dapat meningkatkan performa mesin dan mengurangi polusi udara, dan  biofuel pertama yang diproduksi dalam skala besar. Produksi etanol Amerika Serikat dari jagung, yang merupakan generasi pertama biofuel, mencapai 50,3 kilo liter pada tahun 2010 dan naik ke 54,3 juta kilo liter pada tahun 2011 (Patrick, 2012). Sedangkan di Indonesia, produksi bioetanol pada tahun 2008 mencapai 377,5 juta liter pertahun yang dihasilkan dari bahan baku tetes tebu (Sofyan, 2012).   Bioetanol adalah etanol yang bahan utamanya dari tumbuhan dan umumnya menggunakan proses fermentasi. Etanol atau ethyl alkohol C2H5OH berupa cairan bening tak berwarna, terurai secara biologis (biodegradable), toksisitas rendah dan tidak menimbulkan polusi udara yg besar bila bocor. Etanol yang terbakar menghasilkan karbondioksida (CO2) dan air. Etanol adalah bahan bakar beroktan tinggi dan dapat menggantikan timbal s

Cara Produksi Detergen Bubuk yang Efektif dan Profesional

Langkah-langkah Produksi Deterjen Bubuk yang Efektif Deterjen bubuk merupakan produk yang digunakan oleh banyak orang dalam membersihkan pakaian. Berikut adalah cara pembuatan deterjen bubuk yang efektif: 1. Persiapkan Bahan Baku yang Berkualitas Pastikan bahan baku yang digunakan dalam produksi deterjen bubuk berkualitas tinggi. Hal ini akan memastikan bahwa produk yang dihasilkan memiliki performa yang baik dalam membersihkan noda pada pakaian. 2. Pilih Formula yang Efektif Riset dan pilihlah formula yang efektif untuk deterjen bubuk Anda. Dalam memilih formula, pertimbangkan kemampuan deterjen untuk menghilangkan noda, meningkatkan kecerahan pakaian, dan memperpanjang umur pakaian. Formula detergen bubuk menurut beberapa pedoman dalam penyusunan formula detergen cuci dengan tangan adalah Nilai AM (kadar busa) yang terbentuk dari NP-30 dan Emal-10 sebaiknya minimal 10. Apabila nilai AM terlalu rendah, busa detergen juga rendah. Umumnya AM berkisar antara 10 - 25. 3. Proses Pencampur